Mycobacterium bovis

Mycobacterium bovis PENYEBAB TUBERKULOSIS PADA BABI
M. Ali Akram Syah S.
185130100111034
D - 2018
Program Studi Pendidikan Dokter Hewan, Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Brawijaya
email: muhammadaliakram6092@gmail.com
ABSTRAK
Mycobacterium bovis penyebab BTB adalah anggota dari Mycobacterium  tuberculosis kompleks. Kelompok yang juga termasuk didalamnya ialah : Mycobacterium tuberculosis, Mycobacterium africanum dan Mycobacterium  microti. Mycobacterium bovis merupakan agen penyebab tuberkulosis pada babi sedangkan Mycobacterium tuberculosis pada manusia. Kejadian Mycobacterium bovis penyebab tuberkulosis di Indonesia dilaporkan pertama kali menyerang sapi perah di Semarang (Jawa Tengah) oleh Penning pada tahun 1906, yang pada saat itu dilakukan uji tuberkulinasi terhadap 303 ekor sapi perah dan hasilnya ditemukan 3 sapi (0,9%) yang bereaksi positif  (reaktor) terhadap tuberkulosis. Setelah sapi, ternak kambing dan babi juga terkena serangan tuberkulosis. Selanjutnya sejumlah hewan lain seperti kerbau, onta, rusa, kuda, bison dan berbagai satwa  liar baik yang hidup di alam bebas maupun yang hidup terkurung di kebun  binatang maupun hewan peliharaan seperti anjing dan kucing, semuanya dapat terserang tuberkulosis (Tarmudji dan Supar, 2008).
Kata Kunci : Babi, Tuberkulosis, Mycobacterium bovis


Pendahuluan
Tuberkulosis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri dari genus Mycobaterium. Sebagai penyakit menular, tuberkulosis sudah dikenal sejak lebih dari 2000 tahun yang lalu, ditemukan tanda menciri pada penyakit ini pada tulang mumi mesir kuno.
Bovine tuberculosis adalah penyakit zoonosis penting yang tersebar di seluruh dunia. Mycobacterium bovis merupakan agen penyebab bovine tuberculosis  pada ternak, hewan domestikasi lain dan satwa liar. Mycobacterium bovis termasuk  kelompok dari Mycobacterium tuberculosis complex, dimana anggota kelompok tersebut Mycobacterium tuberculosis, Mycobacterium africanum, dan Mycobacterium microti (AlSaqur et al, 2009; OIE, 2009).
Secara morfologik, Mycobacterium sp. berbentuk batang (Poeloengan et  al.,  2014) dan memiliki panjang 2-4 µm dan lebar 0,2-0,5 µm serta bersifat aerob   obligat, parasit intraselular fakultatif, terutama pada makrofag dan memiliki waktu  regenerasi yang lambat yakni 15-20 jam (Todar, 2012).
Peneliti sebelumnya  membuktikan bahwa bakteri Mycobacterium sp.  merupakan bakteri Gram positif dan bersifat tahan asam. Oleh karena itu disebut pula sebagai Basil Tahan Asam (BTA) sehingga dengan pewarnaan Ziechl Nielsen berwarna merah (Poeloengan et al.,  2014).  
Etiologi
Mycobacterium bovis penyebab BTB adalah anggota dari Mycobacterium tuberculosis kompleks . Kelompok yang juga termasuk didalamnya ialah : Mycobacterium tuberculosis, Mycobacterium africanum dan Mycobacterium microti. Mycobacterium bovis merupakan agen penyebab tuberkulosis pada babi sedangkan Mycobacterium tuberculosis pada manusia (Qamar dan Azhar, 2013).
Secara morfologik, Mycobacterium sp. berbentuk batang (Poeloengan et al.,  2014) dan memiliki panjang 2-4 µm dan lebar 0,2-0,5 µm serta bersifat aerob  obligat, parasit intraselular fakultatif, terutama pada makrofag dan memiliki waktu regenerasi yang lambat yakni 15-20 jam (Todar, 2012). Peneliti sebelumnya membuktikan bahwa bakteri Mycobacterium sp.  merupakan bakteri Gram positif dan bersifat tahan asam. Oleh karena itu disebut pula sebagai Basil Tahan Asam (BTA) sehingga dengan pewarnaan Ziechl Nielsen berwarna merah (Poeloengan et al.,  2014).

 






Bakteri ini kadang-kadang berbentuk filamen atau menyerupai miselium, tidak bergerak aktif (non motil), tidak membentuk spora, pertumbuhan in vitro sangat lambat yaitu 2 – 10 minggu (Tarmudji dan Supar, 2008), serta hanya dapat hidup beberapa minggu di luar tubuh induk semangnya, karena tidak tahan terhadap panas, sinar matahari langsung atau kondisi kekeringan (Tarmudji dan Supar, 2008). Struktur dinding sel Mycobacterium sp. bersifat unik dan berbeda diantara prokariot lainnya dan merupakan faktor penentu virulensinya.  
Dinding selnya memiliki peptidoglikan, tetapi lebih dari 60% komponen  dinding  selnya  adalah  lipid.  Fraksi lipid  dinding sel Mycobacterium sp. terdiri dari 3 komponen yaitu asam mikolat, cord factor dan wax-D (Todar, 2012).






Asam mikolat merupakan molekul hidrofob kuat yang membentuk lapisan lipid mengelilingi organisme dan berperan dalam permeabilitas permukaan sel. Asam ini  juga berfungsi mempertahankan mikobakterium dari serangan lisozim, serta melindungi mikobakterium ekstrasel (Todar, 2012).  
Cord  factor bersifat  toksik  terhadap  sel  mamalia  dan merupakan  inhibitor  migrasi  leukosit  polimorfonuklear ( Polymorphonuclear Leukocyte, PMNL). Cord factor umumnya dihasilkan oleh galur Mycobacterium tuberculosis  yang virulen. Konsentrasi lipid yang tinggi pada dinding sel ini menyebabkan Mycobacterium tuberculosis bersifat impermeabel  terhadap  pewarnaan,  resisten  terhadap  kebanyakan  antibiotik,  tidak  bisa dibunuh menggunakan senyawa asam atau basa dan dapat bertahan dari serangan makrofag. Wax-D dalam amplop sel merupakan komponen utama dari bahan Freund's Complete Adjuvant (CFA) (Todar, 2012).
Hewan Rentan Mycobacterium bovis
Sapi merupakan inang sejati Mycobacterium bovis. Selain sapi, ternak  kambing dan babi juga rentan terhadap serangan tuberkulosis.
 






Sedangkan sejumlah hewan lain seperti kerbau, onta, rusa, kuda, bison dan berbagai satwa liar baik yang hidup di alam bebas maupun yang hidup terkurung di kebun binatang maupun hewan peliharaan seperti anjing dan kucing, semuanya dapat terserang tuberkulosis.
Possum (trichosurus vulpecula) di Selandia Baru dan badgers (meles meles) di Inggris merupakan satwa liar setempat yang diketahui  berpotensi besar dalam penyebaran tuberkulosis baik bagi kawanan sapi di Inggris  maupun bagi kawanan sapi dan domba di Selandia Baru. Diperkirakan bahwa kerugian ekonomi akibat tuberkulosis adalah kehilangan 10-25% dari efisiensi produksi di luar kematian hewan (OIE, 2009).

Epidemiologi
Spesies mamalia yang paling banyak terserang oleh TB adalah sapi, babi dan manusia. Dalam suasana alami yang dimiliki, hewanhewan liar jarang yang menderita TB. Meskipun demikian apabila mereka tertangkap oleh manusia, misalnya kera, beberapa telah menderita tuberkulosis. Diantara sapi-sapi, kejadian yang tertinggi terdapat pada sapi yang dipelihara secara bersama-sama, seperti halnya pada sapi perah.  Sapi pedaging pun dapat memiliki angka kejadian yang tinggi bila hewan-hewan tersebut harus berdesak desakan karena terbatasnya pakan dan minum yang disediakan. Kerbau juga sangat rentan terhadap infeksi mikobakterium. Babi biasanya menderita karena kerentanannya terhadap tipe human dan bovin. Spesies anjing, kucing dan kuda hanya kadang-kadang saja ditemukan menderita, sedangkan domba dan kambing sangat jarang menderita infeksi kuman ini. Tingkat kerentanan berbagai spesies terhadap bermacam tipe mikobakterium dapat dilihat pada tabel 1 berikut (Subronto, 2003).
Penyebaran penyakit tuberkulosis tergantung pada adanya kasus terbuka (open case) yang membebaskan basil-basil ke dalam sekreta dan ekskreta tubuh ke lingkungan sekitarnya. Kuman-kuman akan tinggal di tempat tersebut yang selanjutnya hewan-hewan sehat yang lain akan tertular baik melalui mulutnya atau melalui inhalasi.
Meskipun jarang terjadi, namun infeksi secara kongenital dapat pula terjadi. Penempatan hewan-hewan yang berdesakan dan adanya stres mempermudah terjadinya penularan penyakit TB. Pada umumnya perawatan yang kurang baik, yang berlangsung dalam waktu lama, kurang begitu berpengaruh terhadap infeksi kuman tuberkulosis secara percobaan. Telah pula dibuktikan bahwa kelaparan yang sebentar-sebentar ditimbulkan dapat mengakibatkan proses kejadian penyakit dipercepat. Kondisi tubuh yang baik terbukti tidak melindungi terhadap infeksi kuman TB. Faktor-faktor genetik mungkin mempunyai pengaruh atas kerentanan maupun ketahanan individu terhadap infeksi kuman (Subronto, 2003).
     Beberapa galur kuman TB memiliki virulensi lebih besar daripada lainnya. Sebelum pengendalian terhadap tuberkulosis ternak biasa dijalankan, kelompok-kelompok sapi perah yang bereaksi positif dalam program vaksinasi dapat mencapai 100%, dan banyak dari mereka yang menunjukkan adanya lesi tersifat dalam pemeriksaan yang dilakukan di rumah potong. Hal demikian terjadi terutama karena dimasukkannya sapi perah yang belum pernah mengalami uji tuberkulinasi ke dalam suatu peternakan. Di Australia bagian utara yang beriklim tropis, sebelum adanya program pengendalian tuberkulosis, diketahui bahwa lebih dari 50% sapi-sapi yang berasal dari beberapa kelompok peternakan memeperlihatkan lesi-lesi tersifat tuberkulosis waktu diperiksa di rumah potong. Hal yang demikian terjadi karena sapi-sapi potong terdapat bergerombol di sekitar tempat-tempat minum pada waktu musim kering, hingga penularan penyakit menjadi dipermudah karenanya. Di beberapa daerah diketahui bahwa kerbau-kerbau yang bertindak sebagai reaktor mencapai 13%. Di Australia Utara kejadian tuberkulosis pada waktu itumencapai sekitar 0,2% (Subronto, 2003).
     Air susu yang terinfeksi merupakan sumber penularan penyakit bagi pedet, babi dan manusia. Sekitar 5% dari sapi-sapi yang menderita infeksi menunjukkan radang ambing TB (Mastitis tuberkulosis) (Subronto, 2003).    
Patogenesis Mycobacterium bovis
Patogenesis BTB terdiri dari dua tahapan yaitu : masa infeksi primer dan masa reinfeksi. Pada masa infeksi primer terjadi perubahan yang ditimbulkan oleh Mycobacterium sp. pada organ tubuh dan kelenjarnya, yang disebut “komplek primer”. Infeksi yang terjadi pada organ-organ yang termasuk dalam komplek primer ini dapat sembuh. Namun, jika tidak sembuh, hal ini kemungkinan disebabkan karena bakteri bersifat sangat virulen, dan resistensi individu hospes yang rendah. Komplek primer dapat menimbulkan metastasis yang secara cepat dapat membunuh hewan (Tarmudji dan Supar, 2008
Masa reinfeksi tuberkulosis yang terjadi pada sapi akan menyebabkan kejadian penyakit menjadi kronis atau menahun. Bila sapi penderita tuberkulosis dapat mengalahkan infeksi primer tersebut, secara klinis individu tersebut dapat sembuh. Sementara bila terjadi reinfeksi, maka menyebabkan infeksi menahun pada alat tubuh (organ) paru-paru dan hati (fase ini disebut tuberkulosis menahun) yang mengakibatkan terjadinya pembentukan tuberkel-tuberkel. Proses yang terjadi adalah sel-sel neutrofil menyerang dan mengelilingi bakteri yang ada pada jaringan. Sel-sel neutrofil ini secara cepat diganti dengan sel-sel epiteloid. Pada pertengahan tuberkel terlihat struktur fibrinoid yang diikuti perkejuan dan pengapuran. Di sekitar lapisan sel-sel terdapat selapis sel-sel spesifik yakni sel-sel
bundar (limfosit, monosit, sel-sel plasma), histiosit dan fibroblast. Pada TBbiasanya ditemukan sel-sel epiteloid dan sel-sel Langerhans (Tarmudji dan Supar, 2008).
Saat Mycobacterium sp. berhasil menginfeksi paru-paru, maka dengan segera akan tumbuh koloni bakteri yang berbentuk globular (bulat). Reaksi immunologis menunjukkan bahwa bakteri tersebut akan berusaha dihambat melalui pembentukan dinding disekeliling bakteri itu oleh sel paru-paru. Mekanisme pembentukan dinding tersebut membuat jaringan disekitarnya menjadi jaringan parut, dan bakteri Mycobacterium sp. akan menjadi dormant (istirahat). Bentuk-bentuk dormant inilah yang sebenarnya terlihat sebagai tuberkel (Megawati, 2013).
Perkembangan infeksi Mycobacterium sp. menjadi tuberkulosis aktif dalam inang dapat dibagi dalam 5 tahap, yaitu dimulai dengan inhalasi droplet. Paru merupakan jalan utama masuknya Mycobacterium sp. melalui udara, yaitu dengan inhalasi droplet sehingga dapat mencapai dan bersarang di bronkiolus serta alveoli (Todar, 2012)
Tahap kedua dimulai 7-21 hari setelah terinfeksi, Mycobacterium sp. memperbanyak diri dalam makrofag yang tidak aktif, sampai makrofag tersebut pecah. Kemudian makrofag lain yang aktif mulai muncul dari sistem darah tepi dan memfagositosis Mycobacterium sp., tetapi akhirnya makrofag ini juga kembali tidak aktif sehingga tidak dapat memusnahkan Mycobacterium sp. (Todar, 2012)  Pada tahap ketiga terbentuk respon imun selular. Limfosit khususnya sel T, mengenali antigen dengan bantuan  molekul Major Histocompability Complex (MHC) selanjutnya akan  terjadi  aktivasi  sel  T  dan  pembebasan  sitokin  yaitu  interferon  gamma  (IFN  γ). Pembebasan IFN γ akan mengaktifasi makrofag dan makrofag yang teraktivasi inilah yang mampu memusnahkan Mycobacterium sp..
Pada tahap ketiga ini juga terbentuk tuberkuli dan Mycobacterium sp. tidak dapat memperbanyak diri dalam keadaan tuberkuli, karena pH sangat rendah dan jumlah oksigen terbatas. Mycobacterium sp. dapat tahan dalam keadaan tuberkuli selama periode waktu tertentu (Todar, 2012).  
Pada tahap keempat terjadi pertumbuhan tuberkuli. Walaupun banyak terdapat makrofag aktif disekitar tuberkuli, juga banyak terdapat makrofag yang tidak atau kurang aktif. Mycobacterium sp. menggunakan makrofag tidak atau kurang aktif ini untuk bereplikasi sehingga tuberkuli dapat tumbuh dan menyerang bronkhus menyebabkan infeksi Mycobacterium sp. dapat menyebar ke bagian lain paru-paru. Tuberkuli juga dapat menyerang arteri atau pembuluh darah lainnya dan menyebabkan tuberkulosis ekstra-paru (Todar, 2012). Lesi juga ditemukan pada hati, granuloma paru-paru, limpa dan limfonodus (mandibular, parotid, retro-pharyngeal, mediastinal,  tracheobronchial dan tonsil) (Tarmudji dan Supar, 2008).
Pada tahap kelima, caseous centers tuberkuli mencair, namun mekanisme terjadinya hal tersebut belum diketahui. Cairan ini sangat mendukung pertumbuhan Mycobacterium sp. dan mulai memperbanyak diri secara ekstrasel dengan cepat. Jumlah Mycobacterium sp. yang banyak akan  menyebabkan  lapisan  jaringan  terdekat  dengan  bronkhi  mengalami  nekrosis  dan rusak, menimbulkan rongga dan menyebabkan Mycobacterium sp. dapat menyebar ke udara dan bagian lain dari paru-paru (Todar, 2012).  
Gejala Klinis Mycobacterium bovis 
Menurut Tarmudji dan Supar (2008), gejala klinik Mycobacterium bovis dapat dibedakan menjadi gejala umum dan gejala khusus yang timbul sesuai dengan organ yang terlibat. Gejala klinik tidak selalu spesifik, terutama pada kasus baru, sehingga menyulitkan diagnosisnya. Penyakit tuberkulosis berkembang secara lambat, mulai bulanan sampai tahunan. Babi yang sudah terinfeksi  mikobakterial pada stadium awal tidak menunjukkan gejala klinis. Namun pada stadium lanjut, babi menunjukkan gejala umum yakni : temperatur tubuh fluktuatif, anoreksia dan kehilangan bobot hidup, pembengkakan
limfonodus, batuk-batuk sampai sesak nafas dan frekuensi respirasi bertambah (bila tuberkulosis paru-paru) dan indurasi atau pengerasan puting susu.  
Pada babi penderita tuberkulosis, bila bakteri Mycobacterium bovis sudah menyerang otak,  akan mengalami gejala syaraf (inkoordinasi, terhuyung-huyung) dan tingkah lakunya abnormal sebagai akibat adanya meningo ensefalitis tuberkulosa pada sapi Holstein yang berumur 4 tahun (Tarmudji dan Supar, 2008).
Perubahan patologi anatomi Mycobacterium bovis 
Tarmudji dan Supar (2008), melaporkan bahwa lesi Mycobacterium bovis dapat terjadi pada semua organ pada tubuh, tetapi lokasi yang paling umum terdapat pada paru-paru dan limfonodus. Ukuran lesi dapat bervariasi dari beberapa milimeter sampai ke seluruh nodul dan lobus paru-paru. Terbentuknya lesi awal di deteksi sebagai nodul-nodul kecil berwarna putih dengan diameter beberapa milimeter. Sedangkan lesi besar khususnya yang terjadi pada paru-paru ditandai dengan nekrosis yang meluas. Pada pemeriksaan  post mortem dari babipenderita tuberkulosis, terlihat lesi granuloma (di mana bakteri dilokalisir) yang berbentuk bulat, berdiameter 1 – 3 sentimeter, berwarna kuning atau abu-abu dan konsistensinya keras. Pada bidang sayatan granuloma mengandung masa kering kekuningan, perkejuan atau masa nekrotik mengandung reruntuhan sel-sel mati.
Diperkirakan 90% lesi tuberkulosis pada sapi melibatkan limfonodus pada sistem pernafasan (Gambar 2.1.). Namun lesi dapat juga ditemukan pada rongga thorax, kepala, mesenterika dan sekitar separuh lesi paru-paru terdapat dalam bagian lobus distal diafragma (Tarmudji dan Supar, 2008). Pada paru-paru, seringkali terjadi abses miliari karena bronkho pneumonia supurativa dan terdapat nanah yang berwarna krem sampai oranye, konsistensinya bervariasi dari cairan kental menjadi perkejuan, yang biasanya diselaputi oleh jaringan kapsular yang tebal (Gambar 2.2.). Nodul-nodul kecil nampak pada pleura dan peritoneum (Tarmudji dan Supar, 2008).
 



Gambar 2.1 Limfonodus babi  yang terinfeksi tuberkulosis (kiri), Limfonodus babi normal (kanan).
Pada penyebaran kasus, terdapat granuloma kecil-kecil lebih dari satu ditemukan pada sejumlah organ misalnya pada paru-paru, limpa, hati dan rongga tubuh (CFSPH, 2005).  
 





Gambar 2.2 Lesi tuberkulosis pada paru babi dara umur 2 tahun.

Metode diagnostik untuk memeriksa adanya Mycobacterium bovis 




Mendeteksi Mycobacterium bovis diperlukan beberapa metode diagnostik untuk medeteksi keberadaan bakteri tersebut. Salah satu metode yang digunakan ialah Polymerase Chain Reaction (PCR).
Polymerase Chain Reaction (PCR)
Reaksi berantai polimerase (Polymerase Chain Reaction, PCR) adalah suatu metode enzimatis untuk amplifikasi DNA dengan cara in vitro.  PCR ini pertama kali dikembangkan pada tahun 1985 oleh Kary B. Mullis. Amplifikas DNA pada PCR dapat dicapai bila menggunakan primer oligonukleotida yang disebut amplimers. Primer DNA suatu sekuens oligonukleotida pendek yang berfungsi mengawali sintesis rantai DNA. PCR memungkinkan dilakukannya pelipatgandaan suatu fragmen DNA. Umumnya primer yang digunakan pada PCR terdiri dari 20 -30 nukleotida (Yusuf, 2010). DNA template (cetakan) yaitu fragmen DNA yang akan dilipatgandakan dan berasal dari patogen yang  terdapat dalam spesimen klinik. Enzim DNA polimerase merupakan enzim termostabil Taq dari bakteri termofilik  Thermus aquaticus. Deoksiribonukleotida trifosfat (dNTP) menempel pada ujung 3’ primer ketika proses pemanjangan dan ion magnesium menstimulasi aktivasi polimerase (Yusuf, 2010).
Proses PCR melibatkan beberapa tahap yaitu: denaturasi awal, denaturasi, annealing, ekstensi dan ekstensi akhir. Tahap (2) sampai dengan (4) merupakan tahapan berulang (siklus), di mana pada setiap siklus terjadi duplikasi jumlah DNA (Handoyo dan Rudiretna, 2001).  
Denaturasi  
Pada tahap ini molekul DNA dipanaskan sampai suhu 950C yang menyebabkan terjadinya pemisahan untai ganda DNA menjadi untai DNA tunggal. Untai DNA tunggal inilah yang menjadi cetakan bagi untai DNA baru yang akan dibuat (Kusuma, 2010).
 



Penempelan (Annealing)
Enzim Taq polimerase dapat memulai pembentukan suatu untai DNA baru jika ada seuntai DNA berukuran pendek (DNA yang mempunyai panjang sekitar 10 sampai 30 pasang basa) yang menempel pada untai DNA target yang telah terpisah. DNA yang pendek ini  disebut primer. Agar suatu primer dapat menempel dengan tepat pada target, diperlukan suhu yang rendah sekitar 550C selama 30-60 detik (Kusuma, 2010).


 



Pemanjangan (Ektension)
Pemanjangan (Ektension) merupakan langkah setelah primer menempel pada untai DNA target, enzim DNA polimerase akan memanjangkan sekaligus membentuk DNA yang baru dari komponen primer, DNA cetakan dan nukleotida (Kusuma, 2010).
Deteksi kuman BTB dengan teknik PCR mempunyai sensitivitas yang amat tinggi. PCR merupakan cara amplifikasi DNA, dalam hal ini DNA Mycobacterium sp., secara in vitro. Proses ini memerlukan DNA cetakan (template) untai ganda yang mengandung DNA target, enzim DNA polymerase, nukleotida trifosfat, dan sepasang primer.
 Pemeriksaan Mycobacterium sp.  dengan teknik PCR cukup baik bila dibandingkan dengan kultur bakteri BTB. Pemeriksaan Mycobacterium sp. dengan teknik PCR mempunyai keunggulan, yaitu waktu pemeriksaannya relative singkat, yaitu hanya 24 jam saja.
 


Sedangkan pemeriksaan kultur bakteri Mycobacterium sp. membutuhkan waktu 8 – 12 minggu (Jasaputra et al., 2005).  Teknik tes amplifikasi molekul PCR telah terbukti menjadi alternatif peneguhan diagnose yang menjanjikan bahkan untuk negara-negara berkembang. Dengan PCR, diagnosis dapat ditegakkan lebih cepat dan proses diagnostik menjadi tidak rumit, PCR dapat mengurangi keterlambatan baik dalam diagnosis dan awal pengobatan. Bergantung pada "standar emas" dan faktor metodologis lainnya, studi menunjukkan sensitivitas PCR mulai dari 77% sampai dengan  95% (Lydia et al., 2004).
Aspek Kesehatan Masyarakat Veteriner
Pertimbangan dari segi pemotongan hewan dan pemanfaatan daging bovine tuberculosis (btb) pada hewan, meliputi :
1. Di daerah pemberantasa btb  Reaktor (+) maka seluruh hewan diafkir (tidak dianjurkan untuk dipotong).
2. Pada saat akhir dari suatu tindakan pemberantasan Reaktor (+), tanda-tanda lesi (-) maka diadakan perebusan terhadap karkas, viscera maupun organ lebih dahulu sebelum daging dimanfaatkan. Reactor (+), terdapat lesi pada satu organ maka dilakukan perebusan lebih dahulu terhadap karkas dan viscera, sedang organ dan bagian karkas yang menyimpang diafkir. Reactor (+), terdapat lesi pada lebih dari satu organ maka seluruh hewan diafkir.
3. Permulaan pemberantasan di daerah tertular Reactor (+), tanpa tanda-tanda lesi diijinkan untuk dijual dengan daerah distribusi terbatas (lulus bersyarat). Reactor (+) terdapat lesi pada salah satu organ tanpa adanya lesi millier maka dilakukan perebusan lebih dahulu terhadap karkas dan viscera. Btb lokal pada ambing atau paru-paru maka afkir bagian kelenjar ambing atau paru-paru. Reactor (+), terjadi lesi pada lebih dari satu organ tetapi tidak ada tada-tanda infeksi umum maka afkir seluruh hewan atau dilakukan perebusan lebih dahulu terhadap karkas, sedang paru-paru dan bagian lain yang mengalami lesi diafkir (Hasutji dkk, 2004).
Kelainan Pasca Mati
     Kelainan pasca mati dapat bervariasi mulai dari terbentuknya tuberkel kecil-kecil tunggal, banyak menyebar atau bergabung, baik pada lymphoglandula, paru-paru maupun alat-alat tubuh lainnya. Sifat khas dari tuberkel tersebut berupa sarang-sarang perkejuan atau perkapuran. Sarang-sarang  bovine tuberculosis pada babi, terdapat pada paru-paru dan pleura, hati, limpa, peritoneum, lymphoglandula, kadang-kadang pada kulit dan tulang (OIE, 2009; Hasutji dkk, 2004).
Tuberkulosis ambing lebih sering diderita oleh sapi daripada spesies yang lain. Pada waktu kasus-kasus TB masih terdapat luas, di Eropa dan Amerika diketahui 5% dari hewan yang menderita infeksi TB menunjukkan adanya lesi pada ambingnya. Keempat (kwartir) ambing dapat menderita infeksi meskipun biasanya penyakit hanya bermula dari salah satu perempatan ambing belakang, pada bagian atasnya. Infeksi terjadi secara hematogen yang berasal dari satu fokus TB yang terdapat pada alat lain, atau karena masuknya kuman TB secara langsung dengan melalui alat-alat pemerahan, ke dalam ambing. Bentuk penyakit tuberkulosis ambing dapat bermacam-macam, mungkin berbentuk milier akut dengan pengkijuan atau berbentuk kronik dengan infiltrasi luas oleh fagosit mononuklear yang disertai dengan sedikit pengkijuan maupun pengapuran. Kelenjar limfe supramamer kebanyakan terlibat pada lesi yang berkiju, atau kadang hanya mengalami kebengkakan ringan saja. Proses penyakit di dalam ambing berlangsung lambat tanpa adanya gejala radang kelenjar susu yang akut. Ukuran dan konsistensi ambing sedikit demi sedikit meningkat hingga pada suatu saat ukuran ambing jauh lebih besar dari normalnya dengan disertai indurasi jaringan yang sangat. Kalau ditekan, ambing yang menderita tersebut tidak terasa sakit ataupun menjadi lebih peka. Pada awal proses penyakit, meskipun mengandung kuman-kuman TB, secara fisik air susu nampak normal. Perubahan selanjutnya meliputi perubahan warna, dan kualitasnya menurun. Air susu menjadi lebih encer dan tidak mengandung sir susu kelapa (krim). Bila dipusingkan dengan sentrifuge endapannya mengandung lekosit, dengan jumlah monosit yang sangat meningkat. Pada tingkat penyakit lebih lanjut air susu
berubah secara nyata dengan adanya gumpalan-gumpalan yang sifatnya purulen. Basil TB pada akhirnya ditemukan dalam jumlah besar, mungkin sampai 500.000 sel per mililiter (Subronto, 2003).
Daftar Pustaka
Al-Saqur I.M, A.N Al-Thwani, I.M Al-Attar. 2009. Detection of Mycobacterium spp in cows milk using conventional methods and PCR. Iraqi Journal of Veterinary Science, vol 23, supplement II (259-262).
Hasutji E.N, Didik H, Susilohadi, Suryani, Ratih R, Erni R, Sri C, Wiwik T, Midian N. 2004. Ilmu Penyakit Infeksius I. Laboratorium Bakteriologi dan Mikologi. FKH Universitas Airlangga. Surabaya.
OIE. 2009. Bovine Tuberculosis. OIE Terrestrial Manual. www.oie.int/disease_cards/Bovine_TB_EN.pdf. Diakses pada tanggal 9 Desember 2018.
Subronto. 2003. Ilmu Penyakit Ternak (Mamalia) I. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Juwita, Sartika. 2013.“ Analisis Distribusi Infeksi mycobacterium bovis Dengan Teknik Konvensional, Polymerase Chain Reaction (pcr) dan Geographical Information System (GIS) Pada Ternak Sapi Perah di Kabupaten Enrekang. UNHAS. Makassar.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Contoh Naskah Drama "Kisah Mahasiswa Sukses"

Lirik Lagu Kenanagan Terindah-Samson

China bangun gedung 57 lantai hanya 19 hari (merdeka.com)